Minggu, 15 Juli 2012

kenapa orang bunuh diri

| Minggu, 15 Juli 2012 | 0 komentar

Fenomena bunuh diri di tempat umum, tiba tiba menjadi topik menarik. Kenapa Orang Bunuh Diri? Bagaimana Mencegahnya? Banyak pakar menganalisa penyebab seseorang bunuh diri. Tentu saja setelah diketahui penyebabnya diharapkan bisa dirumuskan cara penanggulangannya. Penjelasan para psikolog terasa hambar karena hanya menjelaskan kemungkinan motif motif nya tanpa memberikan solusi sehubungan dengan motif tersebut. Sehingga yang didapatkan hanyalah gambaran mekanisme kejiwaan seseorang sampai dia melakukan bunuh diri. Mestinya pembahasan masalah semacam ini bisa langsung merumuskan tindakan konkret untuk mencegah munculnya motif bunuh diri dalam pikiran semua orang. Tetapi bagaimana caranya?

Dalam sebuah dialog dengan psikolog terkemuka negeri ini, ditengah tengah penjelasan sang psikolog, muncul pertanyaan mengenai cara pencegahan agar orang tidak bunuh diri. Psikolog menyarankan agar orang orang terdekat bisa lebih peduli dan memberikan perhatian lebih, agar orang yang depresi dan memiliki masalah pribadi mau dan senang berbagi atau curhat kepada orang orang terdekatnya.
Pertanyaan tentu saja berlanjut,"Bagaimana kita bisa tahu bahwa si A adalah orang yang akan bunuh diri sedangkan si B tidak? Karena seringkali orang yang dicurigai akang bunuh diri ternyata tidak melakukan hal itu,sementara beberapa orang yang terlihat easy going ternyata malah bunuh diri"
Di luar dugaan sang psikolog terdiam seribu bahasa. Tanpa disadari dialog telah menyinggung masalah dasar pemikiran psikologi. Terlihat sekali bahwa semua penjelasan psikolog mengenai bunuh diri hanya berdasar dugaan. Semua yang mereka paparkan tidak sedikitpun mengarah pada cara kongkrit mencegah fenomena ini.



Lantas Bagaimana Mencegahnya?

Tentu saja sebelum menentukan cara pencegahan, yang lebih dulu dipahami adalah kenapa mereka bunuh diri. Kita bisa saja buka semua referensi mengenai psikologi, tetapi yang didapat tak akan lebih dari kasus dialog di atas. Psikologi hanya memberikan setumpuk data mengenai berbagai macam motif bunuh diri tetapi tidak satupun menyinggung masalah "Kenapa motif seperti itu bisa muncul dalam pikiran seseorang?"

Banyak orang lupa bahwa masalah bunuh diri tidak sama dengan masalah psikis lainnya dalam hal hubungannya dengan alam kematian.  Orang memilih mati dibandingkan terus hidup tentu dilandasi pemikiran bahwa dengan kematiannya itu semuanya selesai (setidaknya dia tidak lagi merasakan atau mengalami semua masalah hidup) Banyak orang mengira bahwa setelah mati kita tidak lagi merasakan apapun.

Misalnya A memiliki masalah hidup yang berat ( jika di angka kan misanya minus 9), dia berpikir bahwa tidak mungkin lagi memperbaiki minus 9 menjadi minus 8 dst apalagi sampai plus. Bahkan yang lebih memberatkan adalah bayang bayang kegagalan yang lebih parah sehingga nilai minus 9 itu dia yakini akan semakin memburuk menjadi minus 9 minus 10 dst.

Dengan memilih mati dia mengira nilainya bakal nol atau setidaknya dia tak lagi merasakan apa apa meskipun berapapun nilai yang dia dapat. Mirip seperti televisi jika sudah di off kan maka tidak ada gambar apapun. Film yang tadinya kita tonton boleh saja tetap berjalan tapi dengan kita pencet tombol off setidaknya kita tak lagi menonton apapun kejadian dalam film tersebut


Benarkah demikian? Pertanyaan inilah yang tidak pernah dijelaskan dalam psikologi karena psikologi membatasi diri untuk tidak menghubungkan sesuatu dengan alam kematian.Psikologi mengira bahwa ide mengenai alam kematian adalah hasil angan angan pikiran manusia itu sendiri. Artinya alam kematian bukanlah sesuatu yang nyata menurut psikologi.

Tak heran ada psikolog yang ketika pasiennya bertanya mengenai apa yang seharusnya dia pilih antara melanjutkan hidup atau memilih mati, psikolog itu malah menjawab,"Jika anda berfikir bahwa mati itu lebih baik buat anda, ya itu pilihan anda"

Hal demikian itu disebabkan karena psikologi meskipun banyak membahas fenomena kejiwaan seseorang tetapi tidak memiliki data secuilpun tentang alam kematian. Sehingga tidak diketahui mana yang lebih baik antara mati hari ini dan melanjutkan hidup sampai esok hari




 Alam Kematian Yang Dilupakan Banyak Orang

Disiplin ilmu sekuler berusaha keras menjauhkan diri dari pemikiran agama dengan alasan obyektifitas. Mereka lupa atau pura pura bodoh bahwa alam sesudah mati tidak mungkin diteliti dengan menggunakan metoda ilmiah melalui eksperimen dan pembuktian. Padahal mereka tahu bahwa dalam banyak hal eksperimen hanya menempati porsi yang sangat kecil dalam pembuktian ilmiah. Yang paling banyak dipakai dalam menyusun sebuah teori ilmiah adalah justru logika, analogi, dan argumentasi. 
Kesalahan yang paling tidak mereka sadari adalah ketika mereka menerima data atau informasi hanya dari hasil eksperimen. Padahal sangat banyak sumber data lain yang bisa diolah untuk memperkuat teori yang akan dibangun.

Informasi mengenai kematian hanya terdapat dalam buku buku agama. Beberapa Ilmuwan secara arif memasukkan informasi dari buku agama tersebut sebagai sumber tambahan ataupun sebagai pembanding.  Karena eksperimen tak bisa dilakukan maka dalam masalah alam kematian ini, sumber informasi dari buku agama tersebut bukan lagi berfungsi sebagai bahan tambahan ataupun pembanding melainkan menjadi sumber informasi utama.

Tetapi bukankah buku agama itu banyak macamnya dan memberikan informasi yang satu sama lain berbeda?

Memang benar banyak orang meninggalkan sumber agama karena alasan itu, tetapi Tuhan menciptakan manusia dilengkapi dengan akal pikiran. Dan beberapa orang yang berfikir lebih cepat segera menggunakan akal pikiran tersebut untuk meneliti semua naskah agama yang saling berbeda itu.

Penelitian yang dilakukan adalah mengenai Otentisitas, Originalitas naskah / buku agama tersebut kemudian menyimpulkan argumentasi terbaik yang diberikan buku buku agama tersebut. Beberapa penelitian yang dilakukan mengerucut pada tiga kitab suci terbesar yaitu Taurat, Bible dan Al Quran. Dan dalam banyak penelitian dan diskusi pemikiran yang berkembang adalah bahwa dari ketiganya yang paling bisa dijadikan pegangan adalah Quran. Meskipun bukan berarti Taurat dan Bible tidak memuat informasi yang dibutuhkan. Namun dari segi konsistensi logika, kesesuaian dengan sains modern serta keaslian teks memang diakui bahwa Al Quran menempati urutan pertama.
Dan inilah hasilnya
 
Bunuh Diri = Berpindah Menuju Kondisi Yang Jauh Lebih Berat Dan Lebih Panjang Masanya

Ketika orang mengetahui bahwa bunuh diri bukan berarti off sebagaimana televisi maka dia akan bertanya lebih lanjut,"Lantas apa yang dialami manusia setelah mati?"

Orang mati akan hidup di alam kubur sampai hari menghadap Tuhan yang menciptakan manusia. Orang yang mengikuti aturan aturan Tuhan dalam Quran pasti mendapati hidup yang baik pasca kematiannya, dan orang yang melupakan Tuhannya pasti mendapatkan kesengsaraan berlipat lipat dalam waktu yang lama baik di alam kubur maupun di neraka.

Bunuh diri berarti berpindah dari alam dunia yang masih bisa kita perbaiki ke alam yang di dalamnya tidak lagi ada waktu untuk bertobat memperbaiki diri.
Bunuh diri berarti membuang kesempatan umur untuk memperbaiki diri (bertobat) yang masih diberikan Tuhan
Siksa alam kubur dan Neraka adalah tempat paling buruk yang menyengsarakan tanpa bisa diperbaiki. 

Seperti itulah yang diinformasikan oleh Al Quran mengenai hidup sesudah mati
Jika pengertian ini dipahami oleh setiap orang maka tidak akan mungkin muncul keinginan untuk mati. Orang akan berpikir,... setidaknya selama masih hidup kita masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri, sebab kalau sudah mati kesempatan itu tak ada lagi. Seberat apapun kondisi seseorang di dunia, itu masih lebih baik ketimbang mati karena di dunia masih ada kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Bagi yang sudah baik bisa lebih baik lagi, bagi yang belum baik bisa berubah menjadi baik.

Dalam Quran Allah menyediakan ampunan bagi siapa saja yang mau memohon ampun dan memperbaiki diri. tidak peduli seberapapun besarnya kesalahan orang itu.

"Wa saari'uu ilaa maghfirotin min Rabbikum, wa jannatin ardluha as samaawat wal ardli, u'iddat lil muttaqiin" 
artinya: dan bersegeralah kalian menuju ampunan Tuhan Kalian, dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang diperuntukkan bagi al muttaqiin (orang yang taqwa, taat kepada Allah)


Dosa sebesar apapun yang dilakukan manusia, ketika dia mau bertobat dan memohon ampun, pasti diampuni Allah karena, "Inna Llah ghofurur rahim"  Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi Maha Penyayang.

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

dimohon tidak meninggalkan komentar SPAM,komentar SPAM tidak akan saya ikut sertakan

 
© Copyright 2012. gilimenuk.blogspot.com . All rights reserved | gilimenuk.blogspot.com is proudly powered by Blogger.com | Template by Ponorogo alif - zoomtemplate.com